Bismillahirrohmanirrohim..
Rabbi syrahlii shodrii wa yassir lii amrii wa-h-lul 'uqdta-m-millisaanii yafqohu qouli..
Semoga apa yang saya ceritakan ini dapat bermanfaat buat kita semua ya, guys (amiin)
Pada saat itu, umurku masih 10 tahun dan menduduki bangku kelas 4 SD, kehidupanku di sekolah sangat aku sukai, bersama teman-temanku, hingga tiba pada saat mama mengajakku bicara, "Mi, Amy pindah sekolah mau ya?", bagai petir di siang bolong, menyambar hatiku saat mendengarnya, namun aku penasaran, "pindah kemana mah? lagian ngapain pindah? emang kita mau pindah rumah?", tiba-tiba mama tersenyum, seperti senang mendengar pertanyaanku yang antusias, "sekolahnya bagus mi, Amy tau Muqaddasah? pesantren tahfidz, mi, anaknya bujing Epi disana dah lulus hafal 30 juz, mi!" mulutku menganga sempurna membentuk huruf 'o' mendengarnya, namun mama terlihat menaruh harapan besar kepadaku, terlihat dari matanya yang berbinar-binar, sehingg atak mampu aku untuk menolaknya, "yaudah, ma, Amy pikrin dulu" ujarku sambil menunduk, tak berani menatap mama, "iya nak, gak usah buru-buru lah pendaftarannya bukanya masih lama kok", aku sedikit tersentak mendengarnya, pendaftaran? mama udah cari tau sampai sana?
"Saf, gimana nih, masak mama mau aku pindah sekolah??" kataku sambil menatap Safira, sahabatku, lamat-lamat, "hah? pindah kemana? berarti kamu pindah rumah dong ntar?" ujar Safira, reaksinya persis sepertiku, "nggak Saf, nggak pakek pindah-pindahan rumah! kamu tau dimana sekolahnya? di pesantren Saf.. pesantren.. jadi ntar aku yang bakal tinggal disana! aku yang pindah! dan ini tuh gak sesederhana pindah rumah.. aku bakalan pisah sama orangtua aku! dan aku pun heran sama mama, kenapa mama tega sih?? kamu heran gak sih?" kataku, kata-kata dari mulutku meguar begitu saja, kedua tanganku mengepal di atas meja, badanku mencondong kedepan, ,menunggu jawaban dari Safira, kantin mendadak hening, seolah mendengar segala keluh kesahku. Safira mendadak terpaku mendengarnya, ragu-ragu dia membuka mulut, dan akhirnya dia angkat bicara, "yaa.. gimana ya, mi, itukan baru permintaan mama kamu, jadi, ya.. kalo kamu gak mau, kan tinggal bilang aja gak mau.. gitu sih kalo aku", aku menaruh kedua tanganku diatas paha, dan menarik tubuhku kembali duduk tegak, "Saf, tapi kamu gatau.. mama aku tuh kayak pengen banget gitu aku masuk kesana.. aku jadi gak tega nolak.." ujarku, lalu menunduk, "ck, gini ya, mi.." lanjut Safira sambil mengubah posisi duduknya, "sekarang aku tanya, kamu jawab yang jujur, kamu sebenernya mau gak dipindah ke pesantren?" tanya Safira dengan tegas, "ya, nggak lah, kalo aku mau, aku juga gabakal...", "ssst..." Safira mengacungkan telunjuknya di depan mukaku, aku terdiam, "gini ya mi, kamu tuh gaboleh membohongi diri kamu sendiri, apalagi orang lain, kalo kamu bilang ke mama kamu seakan-akan kamu mau, itu sama aja kamu ngasih harapan palsu ke mama kamu, dan itu gak baik, mi, mama kamu pasti bakal sedih nantinya.." Safira berhenti sejenak dan mengambil nafas, tangannya bergerak-gerak saat menjelaskan, "jadi, kamu harus coba bilang yang jujur ke mama kamu, biar mama kamu gak nyesel diakhir.." jelas Safira panjang lebar, mataku masih menekur lantai kantin, aku membuka mulutku sedikit dan berbicara pelan, "..ya.. aku coba deh.."
"Assalamu'alaikum.. Amy pulang.." sambil masuk rumah, wajahku tertunduk, "wa'alikumussalam.. eh, Amy-ku sayang.. gimana mi.. sekolahnya?" ujar mama yang sedang duduk di depan laptop sambil menoleh padaku, "ya.. gitu-gitu aja mah.." jawabku malas, "loh, Amy kenapa? kok lemes gitu?" tanya mama khawatir, akhirnya aku mengangkat kepalaku menatap mama, "ma, Amy gak mau masuk pesantren.". Mama balas menatapku lama, lalu tersenyum.